Pelajar MA Sairun Ikut Pelatihan Tari Sawat, Sambut Pagelaran Seni Budaya Pulau Ay

Puluhan pelajar dari Madrasah Aliyah (MA) Sairun Rombongan Belajar (Rombel) Pulau Ay, menggelar latihan Tari Sawat di Desa Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Senin (23/4/2026).

Kegiatan ini bagian dari persiapan menyambut Pagelaran Tari Sawat yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat di Pulau Ay.

Pelatihan tari ini berlangsung dengan penuh semangat sebagai wujud upaya pelestarian seni tradsional dan budaya lokal di Pulau Ay Kecamatan Banda. Kegiatan ini, juga menjadi sarana pembinaan generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai tradisi budaya daerah.

Pelatihan Tari Sawat dilaksanakan untuk mendukung kegiatan pagelaran yang merupakan bagian dari program Pemajuan Kebudayaan Lokal. Program ini didukung oleh Dana Indonesiana melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Sebanyak 29 pelajar terlibat dalam kegiatan tersebut, yang terdiri atas pemain musik tradisional dan penari. Mereka mengikuti latihan rutin yang difokuskan pada penguasaan gerakan tari, kekompakan tim, serta pemahaman nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Tari Sawat sebagai warisan budaya masyarakat Desa Pulau Ay, Kecamatan Banda.

Latihan rutin ini menjadi tahapan penting menjelang pelaksanaan Pagelaran Tari Sawat di Pulau Ay. Selain sebagai persiapan teknis pementasan, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap budaya daerah kepada generasi muda serta memperkuat identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Ketua Tim Pengusul program, Kasman Renyaan, S.Pd., M.Pd, mengatakan pelatihan itu tidak hanya berorientasi pada pertunjukan, tetapi menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.

“Sudah saatnya generasi muda memahami nilai-nilai budaya agar tidak tergerus oleh arus zaman. Di tengah maraknya budaya luar yang hadir di ruang maya, hal ini berpotensi mengancam keberlangsungan seni budaya lokal. Karena itu, pelatihan Tari Sawat sangat penting dilaksanakan, bukan hanya untuk kegiatan pertunjukan, tetapi juga sebagai upaya penanaman nilai-nilai positif dari kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur,” ujarnya.

Menurut Sejarawan Universitas Banda Naira itu, melalui pelatihan ini para peserta tidak hanya mempersiapkan diri untuk tampil dalam pagelaran, tetapi belajar memahami sejarah, makna, dan nilai-nilai Tari Sawat, sehingga seni tradisioanl ini terus bertahan dan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Pelatihan ini merupakan bagian dari edukasi Tari Sawat kepada generasi muda, agar mereka tidak hanya mampu menampilkan tarian, tetapi juga memahami nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur,” tuturnya.

Butuh bantuan?