Sepotong Kisah Alumni Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah di MA Sairun Pulau Rhun

Namanya adalah Suta Wiharja Prasetyo, saapaan akrabnya Ustat Sutta. Ia adalah seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi Islam swasta di Jawa Timur. Sebagai syarat wajib mendapatkan ijazah sarjana, ia dan sejumlah mahasiswa (alumni) lainnya yang berasal dari kampus itu, wajib menjalangkan program ungulan kampusnya, yakni pengabdian ke luar daerah selama kurang lebih satu tahun lamanya. Hal ini merupakan satu di antara program kampus yang luar biasa manfaatnya. Menuntut alumninnya, untuk peka terhadap kondisi dakwa Islam dan keadaan pendidikan di pelosok negeri termasuk di bagian Timur Indonesia.

Pengabdian di daerah plosok terpencil memang bukan perkara mudah. Tantangan dan rintangan datang silih berganti, tidak banyak orang tahan dengan keadaan itu. Ketertinggalan di daerah tepencil apalagi di pulau kecil menjadi pertimbangan untuk beratahan atau mencari jalan pintas agar cepat-cepat kembali. Apalagi mereka yang berasal dari kota-kota besar, yang terbiasa hidup dengan akses dan fasilitas yang serba lengkap dan modern.

Ketika diterjunkan ke daerah terpencil di pulau-pulau kecil, tentu akan menjadi beban pikiran. Bisa jadi menyurutkan semangat juang untuk dapat menjalani tugas pengabdian tanpa batas wilayah yang seperuhnya laut lepas. Mereka yang tak tahan akan mudah menyerah dengan keadaan geografis dan  sosialogis masyarakatnya. Faktanya demikian, satu di antara mahasiswa yang dikrim dari kampus itu untuk melaksanakan pengabdian di pulau bekas Koloni Inggris itu, terpasa menyerah dan kembali sebelum masa pengabdian selesai.

Namun tidak pada mahasiswa yang satu ini, dia betul-bentul tuntas menyelesaikan misi besar kampusnya, yakni berdaawa dan menjalankan misi pendidikan di daerah terpencil dan tertinggal. Mengabdi kepada bangsa di pelosok negeri di ujung Timur Indoneisa. Sungguh luar bisa. Di tengah keterbatasan akses trasportasi, kesulitan akses informasi apalagi internet jauh dari yang diharapkan.

Pulau Rhun, merupakan pulau kecil dan terpencil di tengah Laut Banda, yang mungkin saja tak terlihat dari peta Indonesia. Tapi siapa sangka, pulau karang ini dahulu pernah menghebohkan Eropa pada abad ke-16-17. Bangsa colonial, Portugis, Inggris dan Belanda mengincarinya. Bahkan Inggris dan Belanda rela mengakat sejata, berperan demi untuk mendapatkan pulau yang penuh rempah pala itu. Sebagai jaminan perdamaian konflik Inggris dan Belanda Rhun di barter dengan Pulau Manhatan New York Amerika Serikat melalui perjanjian berada 1679.

Berikut penuturannya, “Saya adalah seorang guru honorer di MA Sairun Pulau Rhun Kec. Banda Kab. Maluku Tengah Provinsi Maluku. Teritung mulai tugas sejak 2022 sampai sekarang (2023). Saya berasal dari Desa Jombang Kabupaten Jember Jawa Timur.  Pada tahun 2021 saya adalah salah satu alumni Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember yang di tugaskan untuk melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di daerah 3T (Daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).

Saya mendapat tempat tugas di Desa Pulau Rhun, sebuah pulau kecil yang jaraknya kurang lebih 22,3 KM dari pusat kota kecamatan Banda Neira. Untuk sampai ke Pulau Rhun, alat trasportasi satu-satunya yang dapat di gunakan adalah perahu nelayan bermesin tempel (40 PK) dengan jarak tempuh kurang lebih 1 s/d 2 jam perjalanan laut yang bergantung pada kondisi dan cuaca alam khususnya pada saat gelombang laut teduh. 

Pulau Rhun adalah bagian dari salah satu pulau-pulau kecil di kepulauan Banda, Maluku Tengah, Maluku. Pulau ini terkenal kaya akan rempah sejak dahulu. Akan tetapi, kekurangan air bersih.

Saat menjalani tugas pengabdian di Pulau Rhun, selain sebagai guru di MA Sairun, saya juga menjadi guru bantu di MTS Gemala Hatta untuk mata pelajaran Bahasa Arab dan di Madrasah Iptidaiyah Negeri (MIN 06 Maluku Tengah) untuk mata pelajaran Al-Quran Hadist dan Bahasa Arab.

Sebagai guru MA Sairun Pulau Rhun, saya mengajar mata pelajaran Fiqih, Bahasa Arab, dan Aqidah Akhlak. Program yang saya kembangkan di madrasat tersebut antara lain adalah:

1. Membaca Rotib Al-haddad setiap lagi sebelum KBM di mulai 

2. Sholat dhuha berjamaah mulai hari senin s/d kamis 

3. Sholat dhuhur berjamaah di setiap akhir KBM sebelum jam pulang

4. Jadwal adzan bergilir, serta kerja bakti bersih masjid pada setiap Jumat 

5. Kegiatan bersih bersih pantai pada setiap hari minggu dalam 1 bulan 1 kali.

Selain menjalankan tugas pendidikan di ketiga madrasah tersebut, saya juga aktif melaksanakan pengabdiakan kepada masyarakat dengan melakukan kegiatan pengajian majelis taklim, pendidikan alquran, khotib Jumat bergiliran di 2 masjid yang ada di Desa Pulau Rhun dan acara rutinan jamaah tahlil pada setiap hari Jumat. Demikian kisah singkat kegiatan saya saat menjalani pengabdian dan dakwah di Pulau Rhun, pulau kecil nan terpencil di ujuang timur Indonesia.**

Butuh bantuan?